Dinsdag, 26 Maart 2013

Dampak Penyimpangan seksual bagi Keluarga Kristen

 Penulis: Arthur Aritonang (Mahasiswa STT Cipanas)
 
1.      Pendahuluan.
Dalam pembahasan kali ini penulis paper akan membahas mengenai penyimpangan seksual dampaknya bagi keluarga Kristen. Penyimpangan seks berarti digolongkan bentuk ketidak normalan/ hubungan yang tidak sehat dari arti dan fungsi sesungguhnya dari seks itu sendiri. Apa saja bentuk penyimpangan seks itu? Bentuk dari penyimpangan seks ialah percabulan, pelacuran/portitusi, mastrubasi, sodomi, inces, homoseksual, dan lesbian. Untuk itulah penulis paper akan membahas lebih spesifik mengenai mastrubasi/onani.
1.1  Pengertian Onani/Mastrubasi.
Onani/Masturbasi[1] adalah suatu tindakan secara sadar yang dilakukan oleh manusia dengan cara menyentuh, menggosok dan meraba bagian tubuh sendiri yang peka sehingga menimbulkan rasa menyenangkan untuk mendapat kepuasan seksual (orgasme) baik tanpa menggunakan alat maupun menggunakan alat. Biasanya masturbasi dilakukan pada bagian tubuh yang sensitif, namun tidak sama pada masing-masing orang, misalnya: putting payudara, paha bagian dalam, alat kelamin (pada perempuan terletak pada klistoris dan sekitar vagina: sedangkan pada laki-laki terletak pada sekitar kepala dan leher penis). Misalnya laki-laki melakukan onani dengan meraba penisnya, remaja perempuan menyentuh klistorisnya hingga dapat menimbulkan perasaan yang sangat menyenangkan atau bisa timbul ejakulasi pada remaja laki-laki.[2]
1.2  Contoh Kasus.
Masturbasi adalah salah satu contoh perilaku seks remaja yang sering menjadi perbincangan hangat di kalangan remaja, terbukti dari tahun ke tahun, angka perilaku masturbasi di kalangan remaja semakin meningkat saja. Penelitian PILAR PKBI Jateng, sebuah LSM peduli remaja di kota Semarang tahun 2002 melakukan penelitian di kalangan mahasiswa, mencatat lebih dari 60% remaja menyalurkan dorongan seksnya dengan cara masturbasi atau onani. Bahkan dr. Boyke dalam salah satu seminar pernah menyampaikan, 80% remaja pernah melakukan onani minimal sekali, sehingga hal ini menunjukkan masih banyak remaja sudah tahu, melakukan, namun belum memahami dampak dan risiko dari masturbasi atau onani.
Masturbasi adalah sebuah perilaku seks yang dilakukan dengan cara merangsang alat kelamin (sendiri) untuk mendapatkan kepuasan seks. Belakangan ini ternyata masturbasi (onani) tidak hanya menjadi tren di kalangan remaja pria saja, tapi wanita pun juga melakukan, terbukti dari beberapa klien wanita yang sempat datang di klinik mengaku kalau pernah melakukan masturbasi. Bahkan tidak jarang pasangan suami istri yang (tentu) sudah banyak menikmati hubungan dengan pasangan pun pernah melakukan masturbasi sepanjang pernikahannya. Apalagi masturbasi bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun, dalam suasana apapun, tanpa harus menggunakan orang lain sebagai patner.[3]
2.      Analisa Masalah.
Pada usia remaja memasuki masa usia 19 ke atas merupakan fase, kematengan fungsi seksul hal itu memang wajar terjadi, itu merupakan pertumbuhan yang normal dari biologis pada pria tersebut, tentunya pada fase tersebut seorang pemuda mencari penyaluran dari dorongan seksual, karena umumnya mereka mengetahui jikalu melakukan hubungan seksual tanpa pernikahan tidak baik karena melanggar hukum dan agama, mereka mencari alternatif dengan melakukan onani, yang adalah merangsang diri sendiri menggunakan tangan. Yang mendorong remaja dan pemuda tersebut melakukan onani antara lain karena mereka telah mengenal lawan jenis dan menjadi pecandu film porno akibat dari perkembangan teknologi yang semakin berkembang, melihat perempuan cantik, yang memiliki bentuk tubuh yang menarik, libido si pria yang memiliki pacar sehingga takut terjeremus dari perzinahan pasif akhirnya melakukan onani, Laki-laki selalu menyendiri tidak ada kerjaan, sehingga memunculkan pikiran yang tidak sehat (kotor) yang membuat terjadinya dorongan untuk melakukan onani. Seorang yang sudah terbiasa melakukan onani akan membuat orang tersebut menjadi seorang pecandu, bahkan bisa melakukan onano sehari 2-3 dalam sehari.
3.       Di tinjau dari sudut Alkitab, Para Ahli, dsb?
Apakah Onani boleh dilakukan dan apa dampaknya?
3.1 Ditinjau dari Sisi Imu Kedokteran (Ilmu Kesehatan).
Dari sisi Medis masturbasi tidak dapat menimbulkan akibat buruk bagi kesehatan, termasuk sperma. Jadi, tidak ada gangguan kuantitas dan kualitas sperma yang disebabkan melakukan masturbasi. Memang, masturbasi yang dilakukan secara tergesa-gesa agar cepat mencapai ejakulasi dikhawatirkan dapat melatarbelakangi terjadinya ejakulasi dini pada pria. Sementara itu, kalau Anda terlalu sering melakukannya, tentu saja Anda akan merasa payah karena masturbasi. Sama seperti hubungan seksual, onani juga memerlukan energi.[4] Dr. Boyke, seorang pakar di bidang seks, onani justru tidak berpengaruh sama sekali dengan kesehatan kita. Secara psikis, onani bahkan dapat meredakan ketegangan seksual tanpa harus melakukan kontak seksual. Saat ini, onani/masturbasi adalah salah satu cara yang di gunakan untuk mengatasi ejakulasi dini. Onani sebenarnya sama seperti melakukan hubungan seksual, bedanya onani di lakukan sendiri, sedangkan hubungan seksual dilakukan dengan pasangan.[5]
3.2 Ditinjau dari Psikologi.
Menurut Dr. James  Dobson, psikolog Kristen yang berpengalaman mengatakan “Masalah Mastrubasi adalah masalah yang masih penuh perdebatan. Sayang sekali saya tidak dapat berbicara atas nama Tuhan secara langsung dalam pokok masalah ini, karena Alkitab sama sekali membisu mengenai perbuatan ini. Maka menurut saya mastrubasi tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Inilah bagian yang wajar dari masa pubertas yang tak melibatkan seorang lain pun. Ini tidak menimbulkan penyakit, tidak menghasilkan bayi dan Yesus tidak menyebutkan dalam Alkitab. Saya tidak mengajurkan anda untuk bermastrubasi, dan juga anda tidak memerlukannya. Tetapi kalau anda telah melakukan beliau harap anda tidak akan bergumul dengan perasaan bersalah karena tindakan tersebut.[6] Menurut Hurlock mengatakan bahwa sekarang, ketika mereka (remaja) secara seksual sudah matang, laki-laki maupun perempuan mulai mengembangkan sikap yang baru pada lawan jenisnya, dan selain mengembangkan minat terhadap lawan jenis juga mengembangkan minat pada pelbagai kegiatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Minat yang baru ini, yang mulai berkembang bila kematangan seksual telah tercapai, bersifat romantis dan disertai dengan keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dari lawan.[7] Selanjutnya Hurlock menyatakan, minat dan perilaku seks yang berkisar di sekitar heteroseksual mempunyai dua unsur yang terpisah. Pertama, perkembangan pola perilaku yang melibatkan anggota kedua kelompok seks, dan kedua, perkembangan sikap sehubungan dengan hubungan kedua kelompok seks. Perbedaan dengan kegiatan heteroseksual remaja di masa lampau terletak dalam dua hal: pertama, tahap-tahap perilaku heteroseks saat ini lebih campur-aduk dibandingkan dengan tahap di masa lampau, dan kedua, perilaku seksual sekarang lebih bebas.[8] Berdasarkan pernyataan Hurlock di atas, maka dapat dilihat bahwa pada masa remaja, seks merupakan bagian dari perkembangan secara fisik (biologis). Dengan demikian dapat dipastikan bahwa dalam masa remaja, masturbasi merupakan bagian dari perkembangan biologis yang dialami oleh para remaja. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan remaja untuk masturbasi dilihat sebagai tindakan untuk mendapatkan kenikmatan atau kesenangan seksual.
3.3 Ditinjau dari Alkitab.
Pandangan Alkitab mengenai onani dalam Matius 5:28 “Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia dalam hatinya”. Sebagaimana yang disebutkan di atas tentu saja saya setuju bahwa onani yang diiringi fantasi semacam itu merupakan pelanggaran atas Matius 5:28. Lebih lanjut lagiitu juga merupakan pelanggaran Hukum ke-10 “Jangan mengingini ... apapun yang dipunyai seseamamu” (Kel 20:17). Hebert juga sangat setuju bahwa banyak onani disertai fantasi adalah jahat.[9] Selanjutnya Herbert menegaskan bahwa onani dapat dilakukan tanpa fantsi dan hawa nafsu. Tuhan telah menciptakan kita sesuai dengan gambar-Nya dan memberi atau menolak pikiran-pikiran yang jahat. Seseorang benar-benar menjadi kristen ketika dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Bila hidupnya diarahkan oleh prinsip-prinsip Kristus dan dia dipimpin oleh Roh Kudus, maka dia dapat melatih diri sendiri untuk menolak pikiran-pikiran yang jahat.[10] Menurut Jerry White sebagai berikut, masturbasi seharusnya tidak menjadi bagian dari kehidupan seorang Kristen. Ayat-ayat dalam 1 Korintus 6:18-20, Galatia 5:19 dan 1 Tesalonika 4:3-7 dalam Alkitab berbicara tentang masalah penggunaan tubuh kita secara tepat dalam seks. Paulus berkata, “ Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup dalam pengudusan dan penghormatan, bukan dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah (1 Tes. 4:3-5).[11] Dalam penjelasan Jerry White di atas dapat dilihat bahwa dalam pandangan Kristen, masturbasi sama sekali tidak dapat dibenarkan. Masturbasi dipandang sebagai sebuah penyimpangan dari ketetapan untuk menguduskan diri. Masturbasi selalu didasarkan pada hasrat seksual yang tinggi. Dalam pandangan Alkitabiah, masturbasi merupakan tindakan cabul atau percabulan. Pernyataan di atas memang masih menjadi perdebatan yang diperbincangkan. Akan tetapi pada dasarnya tindakan masturbasi merupakan akibat dari hawa nafsu dan berahi yang tidak pada tempatnya. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Jerry White, walaupun kita boleh, jadi tidak akan menyelesaikan semua pendapat yang menentang pernyataan bahwa masturbasi adalah dosa, namun kita tidak dapat mengingkari bahwa hal tersebut diakibatkan oleh hawa nafsu dan birahi yang tidak pada tempatnya. Tetapi di dalam kebebasan yang kita miliki berdasar kasih karunia Allah, kita boleh memilih melakukan apa yang kudus dan benar dalam pandangan Allah.[12] Robert Borrong dalam tulisan memberikan solusi agar tidak melakukan tindakan mastrubasi yang tidak pada tempatnya yang dikemukakan oleh Jerry White yakni bahwa nafsu seks disalurkan dengan cara lain misalnya kegiatan olahraga atau kegiatan persahatan yang sehat yang meredam birahi yang bergejolak. Dengan cara ini hawa nafsu dapat dikendalikan dan dikuasai.[13]
4.      Dampak secara umum dari perilaku mastrubasi/onani:
a.       menjadi suatu kebiasaan dan bahkan menjadi sesuatu kebutuhan, dari manusia itu sendiri, jikalau tidak melakukan mastrubasi/onani merasa tidak nyaman.
b.      menguras energi yang mengakibatkan tubuh menjadi lemah/payah.
5.      Kesimpulan dan Posisi Penulis.
Penulis, setuju dengan dilakukanya onani oleh anak remaja (diwajarkan disebabkan masa kematengan fungsi seksual), dewasa dan para suami sejauh tindakan tersebut tidak menjadi kebiasaan. Karena jikalau seorang suami yang jauh dari pada istrinya, tentunya suami yang baik tidak akan berhubungan seksul dengan peremupan lain kecuali dengan istrinya, sehingga baik itu suami, dewasa, dan remaja boleh melakukan onani, sebagai penyaluran alternatif untuk membuang air mani (sperma). Tetapi harus juga dipahami suami, dewasa, dan remaja tersebut tidak lah boleh berfantasi memikirkan perempuan lain yang ada dipikirannya karena jika hal tersebut dilakukan hal tersebut digolongankan perzinahan pasif, kecuali suaminya jika sudah memiliki pasangan hidup yakni istrinya yang dipikirkan oleh suaminya. Onani tersebut baik dilakukan jikalau tidak dileputi dengan rasa berdosa atau bersalah. Karena banyak orang merasa ketika sesudah melukakan onani dikarenakan pandangan lain yang mengatakan air mani (sprema) haruslah dibuang ke dalam vagina perempuan yang ada lah istrinya, alasan lainnya karena berzinah dalam hati, ketika melakukan onani. Jadi onani itu boleh dilakukan asal tidak berfantasi/ berzinah dalam hati. Dampak bagi Keluarga Kristen ialah ketika seorang pria yang menjadi terbiasa dengan aktivitas onani, maka dalam sebuah hubungan suami-istri dalam hubungan bercintanya, pria tersebut cenderung, tidak menikmati hubungan seksual dengan istri tersebut, suami dan istri sama-sama tidak mengalami kepuasaan dalam hubungan seksualnya dan hal tersebut akan berdampak kurang baik bagi keutuhan rumah tangga tersebut. Tentunya dalam sebuah keluarga Kristen, seks merupakan salah satu faktor yang mendorong keharmonisan sebuah keluarga selain dari pada komunikasi, saling mengasihi, dan kedekatan suami-istri dengan Allah yang harmonis. Sekali lagi ditegaskan jikalau dalam kehidupan seks pasangan tersebut kurang mendapatkan kepuasaan, tentunya akan menjadi kurang harmonisnya bagi keluarga tersebut. Untuk itulah Onani boleh dilakukan sejauh tidak menjadi kebiasaan. 
DAFTAR PUSTAKA
Borrong, Robert P.
Etika Seksual Kontemporer.  Bandung: Ink Media. 2006.
Hurlock, Elizabeth B.
Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. 2000.
Miles, Herbert J.
Seks Sebelum pernikahan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1983.
Scheuneman D.
Romantika Kehidupan Orang Muda. Malang: YPPII dan Gandum Mas. 1989.
White, Jerry.
Kejujuran Moral dan Hati Nurani. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004.


[1]Dari cerita yang ditemukan Istilah Onani sendiri, berasal dari kata Onan, kisah ini diceritakan dalam Perjanjian Lama (Injil) salah seorang anak dari Judas, bahwa Onan disuruh oleh ayahnya (Judas) untukcerita yang ditemukan Istilah Onani sendiri, berasal dari kata Onan, kisah ini diceritakan dalam Perjanjian Lama (Injil) salah seorang anak dari Judas, bahwa Onan disuruh oleh ayahnya (Judas) untuk bersetubuh dengan istri kakaknya, namun Onan tidak bisa melakukannya sehingga saat mencapai puncaknya, dia membuang spermanya (mani) di luar dari situlah timbul istilah bila seseorang mengeluarkan mani diluar vagina disebut Onani.
[4] http://www.kompas.com/kesehatan/news/0409/29/114011.htm diakses: Senin, 11-03-2013 Pukul: 11:16
[6] D. Scheuneman, Romantika Kehidupan Orang Muda, Malang: YPPII dan Gandum Mas, 1989. hal.35-36.
[7] Elizabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 2000, hal. 227.
[8] Elizabeth B Hurlock, hal. 240.
[9] Herbert J. Miles, “Seks Sebelum pernikahan.” Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983. hal. 151.
[10] Herbert J. Miles, hal. 152.
[11] Jerry White, Kejujuran Moral dan Hati Nurani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hal. 184.
[12] Jerry White, Kejujuran Moral dan Hati Nurani hal. 184.
[13] Dr. Robert Borrong, Etika Seksual Kontemporer, Bandung: INK Media, 2006, hal. 35.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking